Sabtu, 04 Agustus 2012

IKLAN SURAT KABAR DAN PERUBAHAN MASYARAKAT DI JAWA MASA KOLONIAL (1870-1915)


UNIVERSITAS INDONESIA

IKLAN SURAT KABAR DAN PERUBAHAN MASYARAKAT DI JAWA
MASA KOLONIAL (1870-1915)

LAPORAN BACAAN
Riyanto, Bedjo. 2000. Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial (1870-1915). Yogyakarta: Penerbit Tarawang.

DISUSUN OLEH:
DIANA NURWIDIASTUTI (0806343834)
M. RIDHO RACHMAN (0808343973)
NURUL IMAN (0806462344)

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
DEPOK
BAB I
Periode tahun 1870—1930-an, kehidupan masyarakat di pulau Jawa mengalami proses perubahan struktur secara mendasar dan besar-besaran. Perubahan besar yang terjadi ini mengacu pada pendapat Wertheim, pertama, disebabkan oleh perubahan yang disebabkan oleh perubahan akibat merosotnya peranan politik, ekonomi, dan sosial dari kerajaan-kerajaan tradisional, yang kemudian digantikan oleh kekuasaan birokratis Kolonial Hindia Belanda. Yang jauh lebih kompleks struktur birokrasinya. Binnenlands-Bestuur adalah perangkat birokrasi elite tradisional pribumi yang menjalankan kekuasaan politik pemerintah Kolonial terkait kebijakan suatu sistem pemerintahan tidak langsung (indirect rule). Kedua, proses perubahan yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan dalam struktur ekonomi yang diakibatkan oleh sistem perekonomian kapitalistik Barat yang menggantikan perekonomian pribumi yang bersifat agraris feodal tradisional. Ketiga adalah munculnya golongan baru dalam stratifikasi sosial akibat diterapkannya sistem pendidikan modern oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang dikenal sebagai elite modern Indonesia.
Pesatnya modernisasi yang melanda tanah Hindia Belanda yang ditandai dengan pesatnya pertumbuhan industri maupun perdagangan; pesatnya pembangunan infrastruktur perkotaan; sarana komunikasi dan transportasi; dan semakin heterogennya pelapisan sosial di perkotaan yang membentuk suatu masyarakat konsumen, telah memungkinkan hadirnya sistem komunikasi dengan media massa secara luas dan cepat. Dengan semakin menyatunya media komunikasi massa dalam kehidupan masyarakat perkotaan Jawa, maka semakin meluas dan penting pula peranan media pers (media komunikasi massa cetak) sebagai wahana interaksi sosial dan sosialisasi nilai bagi masyarakatnya.
Yang sangat penting untuk diamati dalam perkembangan industri pers pada akhir abad 19 dan awal abad 20, adalah penampilan bentuk visual iklan surat kabar yang mengalami proses pencanggihan bentuk dan perumitan wujud dalam bobot artistik yang tinggi, seiring dengan modernisasi teknologi percetakan. Disain iklan yang semula hanya tampilan rangkaian tulisan dengan tipografi yang sederhana (iklan baris) yang nyaris tanpa sentuhan rasa keindahan tahun 1870-an, mulai mengalami transformasi disain menjadi iklan display yang kompleks dan artistik.  Hal itu lah yang ingin diangkat dalam tulisan ini, yakni mengenai kreativitas yang dicapai dalam kualitas estetika dari iklan-iklan surat kabar yang dirancang pada periode waktu tahun 1870—1915. Yang kemudian dilakukan interpretasi sejauh mana iklan-iklan surat kabar yang terbit pada periode tahun tersebut mencerminkan adanya proses perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat di Jawa pada masa itu.

BAB II
SELINTAS TENTANG PEKEMBANGAN PERIKLANAN DAN KONSEP PERIKLANAN MODERN DI BARAT
A.    Selintas Sejarah Periklanan di Barat
Pada masa Yunani Kuno, praktik periklanan paling awal berupa periklanan  lisan (oral) yang dilakukan oleh para penjaja yang berteriak keliling kota menawarkan barang dagangannya (salesman).  Misalnya, menawarkan produk kosmetik merk Aesclyptos dengan menyanyikan  semacam puisi sebagai pemikat calon konsumennya. Sedangkan di zaman Romawi, orang-orang memasang iklan dalam bentuk tulisan-tulisan papan pengumuman yang ditempelkan pada dinding-dinding kota untuk mencari budak-budak yang melarikan diri dan juga untuk mengumumkan pertandingan para Gladiator.
Suatu revolusi penting yang semakin memicu perkembangan dunia periklanan terjadi ketika ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg dari Mainz Jerman pada tahun 1440-an. Selain itu, pertumbuhan periklanan sebagai industri komunikasi komersial yang sangat besar terjadi di Amerika Serikat. Tokoh bernama Benjamin Franklin dijuluki sebagai Bapak Perikalanan Amerika pada tahun 1729 dengan surat kabarnya yang terkenal, yakni Pennsylvania Gazette. Beliau menjadi pelopor pemanfaatan gamabar-gambar ilustrasi sebagai penjelas informasi dan kekuatan daya tarik dalam iklan-iklan surat kabar, sehingga menjadikan periklanan modern.


B.     Konsep Periklanan Modern
Pada zaman modern, peristilahan untuk iklan berbeda-beda. Menurut bahasa Melayu, yakni I’lan. Reklame berasal dari bahasa Perancis, “reclamare” yang artinya meneriakkan sesuatu berulang-ulang, sedangkan bahasa Inggrisnya adalah advertising. Istilah iklan pertama kali diperkenalkan oleh Soedardjo  Tjokrosisworo (tokoh pers nasional 1951).[1]Dalam dunia periklanan, media sebagai penyampai pesan dibedakan menjadi dua pengertian, yakni media  lini atas (above-the-line media) dan Media lini bawah (below-the-line media). Sementara itu, pengertian iklan media cetak adalah pesan-pesan komersial dari produsen kepada khalayak konsumennya yang disampaikan lewat media cetak.
C.    Kreativitas dalam Penciptaan Design Iklan Media Cetak
Menurut pendapat David Ogilvy, seorang pakar periklanan terkemuka di dunia, iklan merupakan media informasi yang mengandung bobot seni. Menurut pendapat Francis S. King dan Otto Kleppner, bagian paling penting yang bertanggung jawab terhadap perancangan dan penentuan suatu iklan adalah bagian kreatif yang mengolah dan menyusun unsur-unsur iklan menjadi suatu kesatuan bentuk (design) iklan yang disebut layout atau blue print iklan. Adapun unsur-unsur layout, yakni naskah dan ilustrasi.
Naskah, terdiri atas headline, body-copy dan slogan, sedangkan penyajian ilustrasi dikelompokan menjadi tujuh belas (17) kelompok, tiga diantaranya adalah illustration of the product alone, illustration off the product in setting, dan illustration of the product in use.
Adapun sarana untuk menghubungkan unsur-unsur iklan agar tercapai komposisis yang menyenangkan dan komunikatif sebagaimana patokan-patokan yang dibuat oleh Frank F. Jefkins, diantaranya adalah The Law of Unity (kesatuan) sebagai cara pengorganisasian yang membentuk kesatuan di antara unsur-unsur pendukung layout.



BAB III
PROSES INDUSTRIALISASI, TERBENTUKNYA STRATIFIKASI MASYARAKAT BARU, PERKEMBANGAN PENERBITAN PERS DAN JASA PERIKLANAN DI JAWA TAHUN 1800-1915
A.    Pertumbuhan Ekonomi dan Proses Industrialisasi di Jawa
Memasuki abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda berkuasa kembali di Hindia Belanda setelah sebelumnya dalam beberapa tahun berada di tangan Inggris. Pemerintah kolonial menerapkan berbagai kebijakan ekonomi, salah satunya dengan diterapkannya program untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi yang disebut Sistem Tanan Paksa atas prakarsa van den Bosch. Sampai pada akhir pelaksanaan sistem ini, yakni pada tahun 1977, negeri Belanda telah memperoleh keuntungan dari Hindia Belanda sekitar 825 juta gulden. Selanjutnya diterapkan Undang-undang Agraria 1870, terjadilah swastanisasi dan modernisasi perekonomian Hindia Belanda. Industri berkembang pesat dan penanaman modal asing terus meningkat sehingga perekonomian terus berjalan seiring kebutuhan akan komoditas.
B.     Pertambahan Jumlah Penduduk Pribumi dan Asing di Jawa
Pertumbuhan jumlah penduduk mengalami kenaikan cukup signifikan pada abad 19 dan 20. Pada tahun 1817 diperkirakan 4,5 juta jiwa penduduk pribumi. Kemudian tahun 1930 diperkirakan 41 juta jiwa. Perkembangan yang menakjubkan itu menurut W.F. Wertheim dan Elson, diakibatkan pengaruhn kebijaksanaan politik dan perekonomian kolonial Belanda. Progran vaksinasi dan pemberantasan penyakit menular  yang diselenggarakan pemerintah kolonial ikut andil dalam mengurangi jumlah angka kematian penduduk Hindia Belanda. Sementara itu, untuk laju pertumbuhan penduduk asing sangat erat berkaitan dengan pasang surut proses imigrasi penduduk luar negeri yang datang ke Hindia Belanda.
C.    Perkembangan Pendidikan, Terbentuknya Stratifikasi Sosial Baru, dan Tumbuhnya Masyarakat Konsumen di Jawa
Perluasan birokrasi pemerintahan kolonial membutuhkan adanya lapisan pegawai-pegawai rendahan dalam lembaga Binnenlands Bestuur Negeri Kolonial Hindia Belanda. Oleh karena itu, pada abad ke-20 mulai bermunculan sekolah-sekolah pribumi dan desa, sedangkan sekolah-sekolah tingkat menengah dan tinggi baru pada awal abad ke-20. Penerapan sistem pendidikan Barat semakin mempercepat laju proses modernisasi yang mengubah secara struktural lapisan-lapisan sosial masyarakat Jawa. Ikatan komunal dari masyarakat agraris feodal tradisional berangsur-angsur mulai bergeser ke arah masyarakat dengan ikatan asosiasonal. Golongan baru ini disebut sebagai golongan priyayi. Bersama dengan kaum bangsawan (aristokrat) merupakan elite feodal tradisional.
Selain priyayi, ada juga golongan kelas menengah yang berperan penting dalam perekonomian, yakni golongan Cina perantauan. Sebagai titik puncak piramida stratifikasi sosial dalam struktur masyarakat kolonial di Hindia Belanda diduduki oleh golongan elite Belanda dan Eropa lainnya. Golongan Eropa dan Timur Asing lah yang menciptakan suatu kelas konsumen dengan gaya hidup dan pola konsumsi modern. Modernisasi di Hindia Belanda telah memacu lahirnya lapisan masyarakat konsumen yang cukup potensial sebagai penggerak ekonomi pasar yang berkembang pada masa itu.
D.    Perkembangan Pers pada Masa Kolonial Belanda (1615-1915)

1)      Perkembangan Pers Kolonial Berbahasa Belanda di Jawa
Pers di Indonesia, khususnya di Jawa berkembang ketika VOC di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Pada masa pemerintahannya (1615), diterbitkan semacam surat berupa lembaran bertuliskan tangan yang bernama Memorie Der Nouvelles. Surat tersebut berisi kutipan dan salinan berita surat kabar yang terbit di Eropa. Uji coba penerbitan media komunikasi massa resmi milik pemerintah pertama kali diterbitkan pada 7 Agustus 1744 dengan nama Bataviaasche Nouvelles. Perjalanan surat kabar tersebut tidak dapat berjalan lama dan hanya berjalan dua tahun karena dianggap mengganggu stabilitas politik perdagangan VOC. Oleh karena itu, pada 20 November 1745, surat kabar tersebut dilarang beredar di Hindia Belanda.
Kemudian pada 1776, pemerintah Belanda kembali membuat surat kabar untuk kepentingan publikasi pelelangan perdagangan VOC secara gratis melalui surat kabar Het Vendu-Nieuws (Berita Lelang), sedangkan iklan diluar VOC dikenakan biaya. Surat kabar tersebut berjalan dari 1776-1809. Pemerintah pun memberlakukan sensor terhadapisi media massa, terutama pemberitaan tenang pemerintahan, pertahanan, maupun situasi  sosial yang berlangsung pada masa kolonial.
Pada awal abad ke-19 (1809) di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, percetakan Het Vendu-Nieuws diambil alih pemerintah dan diberi nama Lands-Drukkerijs (Kantor Percetakan Negara), sedangkan surat kabarnya diberi nama Bataviaasche Koloniale Courant yang terbit pertama kali pada 5 Januari 1810. Seiring berperan pentingnya media komunikasi massa cetak sebagai penggalang opini publik terhadap kebijaksanaan dan stabilitas politik, serta perekonomian pemerintah kolonial, maka dibuatlah undang-undang pemerintah yang mengontrol penerbitan dan percetakan yang ditetapkan Dewan Hindia. Oleh karena itu, surat kabar Bataviaasche Koloniale Courant dengan pegawasan ketat pemerintah menjadi media untuk menyiarkan kebijaksanaan pemerintah yang menyangkut kepentingan umum. Setelah Daendels digantikan J.W. Janssens, kondisinya tidak jauh berbeda, yakni menjadi media pemerintah.
Setelah Inggis menjadi penguasa baru di Hindia Belanda pada tahun 1811 di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal  Raffles (1811-1816), diterbitkanlah surat kabar The Java Government Gazette, berbahasa Inggris dan terbit pertama kali pada 20 Februari 1812. Surat kabar tersebut menjadi media pemerintah kolonial Inggris. Akan tetapi, hak-hak kebebasan berkomunikasi maupun persamaan derajat lebih diperhatikan dibandingkan masa pemerintahan kolonial Belanda, sehingga isinya dapat berupa kritik terhadap kebijaksanaan pemerintah dalam tradisi penulisan pers kolonial Belanda.
Pada 1816, kekuasaan Belanda kembali menduduki Hindia Belanda. Gubernur Jendral Baron van Der Capellen (1816-1826) berinisiatif untuk menerbitkan surat kabar resmi. Maka dibuatlah surat kabar yang diberi nama De Bataviaasche Koloniale Courant. Ketika masa pemerintahan Commisioner-General L.P.J. Burggraaf du Bus Gesignies (1826-1830), menerbitkan surat kabar De Bataviaasche Advertentieblad (1827), lalu diganti menjadi Javasche Courant yang terbit tiga kali seminggu, sedangkan pada masa pemerintahan Gubernur Jendral van den Bosch, Javasche Courant hanya sekadar berita-berita pemerintah yang kering dan hambar.
2)      Perkembangan Pers Kolonial Berbahasa Belanda di Hindia Belanda
Pada abad ke-19, ada beberapa daerah di Hindia Belanda yang terkenal dalam perkembangan pers di Hindia Belanda, yakni Batavia, Semarang, Vorstenlanden, maupun Surabaya.  Di Batavia, ada seorang pendeta simpatisan Liberal di Belanda (Van Hoevell) melalui artikel-artikel populernya di surat kabar melancarkan kritik keras terhadap sistem eksploitasi Tanam Paksa di Hindia Belanda. Hal tersebut membawa dampak yang justru membuat pemerintah kolonial Hindia semakin keras dan ketat dalam mengontrol penerbitan. Sebagaimana seorang tipografer Belanda yang datang ke Batavia harus berjuang keras dalam mendapatkan izin penerbitan surat kabar mingguan Het Bataviaasche Advententieblad. Surat kabar ini bertahan dari 1 November 18517 Agustus 1852. Kemudian diganti oleh Java Bode. Sejak 1 Januari 1870, Java Bode menjadi surat kabar  harian terpopuler di Batavia. Selain Java Bode, juga ada surat kabar Het Algemeen Dagblad van Nederlandsch-Indie, tetapi hanya bertahan samapai 31 Desember 1886. Memasuki abad ke-20, di Batavia berkembang tiga surat kabar yang saling bersaing, yakni Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, dan Nieuw Bataviaasch Handelsblad. Dalam perkembangannya, Java bode-lah yang bisa bertahan.
3)      Perkembangan Pers Kolonial Berbahasa Melayu dan Berbahasa Daerah
Untuk memenuhi kebutuhan informasi di kalangan pembaca masyarakat terpelajar pribumi, maka muncul lah industri komunikasi massa cetak (pers) yang menggunakan bahasa pengantar Melayu atau bahasa daerah lainnya yang menonjol. Di samping mampu sebagai pembangkit kesadaran kolektif akan persamaan nasib sebagai satu bangsa (nation), pers tersebut menjadi wahana yang lebih bebas sebagai penyampai gagasan-gagasan, ideologi, kritik sosial, dan pembaharuan-pembaharuan yang menggugat ketimpangan sosial, politik, dan ekonomi akibat kolonialisme. Menurut Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi), pers berbahasa Melayu lebih dapat menyentuh langsung kalangan bumiputera. Adapun ciri-ciri pers berbahasa Melayu, antara lain surat kabar yang isinya hanya ditunjukkan untuk golongan masyarakat Tionghoa. Kemudian, surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan dan dibiayai oleh modal orang-orang Tionghoa. Akan tetapi, ditujukan untuk konsumen pembaca kalangan masyarakat bumiputera dan yang terakhir adalah surat kabar berbahasa Melayu yang dibaca oleh dua golongan masyarakat (Tionghoa dan bumiputera).
Beberapa surat kabar bebahasa Melayu yang diterbitkan di beberapa daerah, yakni surat kabar Pemberita Betawi, Taman Sari dan Medan Prijaji di Batavia. Surat kabar Bintang Soerabaja dan Pewarta Soerabaja di Surabaya. Surat kabar Sinar Djawa, Bintang Pagi, dan Djawa Tengah di Semarang dan Bromartani, DarmoKondho, dan Retnadumilah (media publikasi organisasi Budi Utomo) di Vorstenlanden.
E.     Oplah (tiras) SuratKabar di HindiaBelanda
Menurut Von Faber, taksiran oplah sirkulasi per hari seluruh surat kabar berbahasa Belanda yang beredar di Hindia Belanda sekitar 60.000 eksemplar.  Berdasarkan perkiraan oplahnya, surat kabar yang terbit di Hindia Belanda dapat dikelompokan ke dalam tiga kelas, yaitu:
1.      Surat kabar kelas A, dengan oplah 6.000-9.000 eks/hari. Contohnya, surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad dan Java-Bode.    
2.      Surat kabar kelas B, dengan oplah 3.000-6.000 eks/hari. Contohnya, surat kabar De Locomotief.
3.      Surat kabar kelas C, dengan oplah 2.000-3.000 eks/hari. Contohnya, surat kabar Mataram dan Nieuwe Vorstenlanden.
Pada realitanya besaran oplah tidaklah begitu berpengaruh terhadap usaha penerbitan surat kabar di Hindia Belanda, melainkan pendapatan dihasilkan berasal dari pemasangan iklan. Sehingga isinya banyak berupa iklan karena dengan pemasangan banyak iklan, maka suatu penerbitan surat kabar dapat bertahan lama.
F.     Perkembangan Periklanan Media Cetak di Jawa Pada Masa Kolonial Belanda 1621-1930
Tokoh perintis periklanan yang pertama di Hindia Belanda adalah Jan Pieterszoon Coen, ia sekaligus sebagai pendiri perusahaan periklanan. Surat kabarnya adalah Memorie De Nouvelles (1621) dan mesin cetak pertama di Hindia Belanda Bataviaasche Nouvelles. Seiring perkembangan surat kabar di Hindia Belanda, maka bermunculanlah surat kabar yang berbahasa pengantar Belanda, Melayu, hingga bahasa daerah sehingga pers dapat dibaca oleh semua kalangan di Hindia Belanda. Untuk mengatur pengelolaan pers dan etika periklanan, maka dibuatlah undang-undangnya ketika Gubernur Jendral Deandels menerbitkan Bataviasche Koloniale Courant, yang terdiri atas beberapa pasal. Tokoh-tokoh pers di Hindia Belanda didominasi oleh orang-orang Belanda. Akan tetapi, perusahaan-perusahaannya banyak mempekerjakan tenaga profesional orang-orang bumiputra dan Cina. Sementara itu, kebijaksanaan tarif iklan berpedoman pada jumlah permintaan tiras (oplah) surat kabar yang akan dicetak oleh pemasang iklan.
BAB IV
JENIS DAN BENTUK VISUAL IKLAN PADA BEBERAPA SURAT KABAR PENTING YANG TERBIT DI JAWA PERIODE TAHUN 1870—1915

A. Kota dan Pertokoan di Jawa dalam Iklan dari Berbagai Surat Kabar Penting yang Terbit di Jawa Periode Tahun 1870—1915
Perkembangan periklanan sebagai sebuah komunikasi pada masa itu adalah ciri khas masyarakat kota. Sebagai suatu simbol budaya, keberadaan periklanan merefleksikan tingkatan perkembangan kebuadayaan suatu masyakat kota. Semakin canggih penampilan visual suatu iklan, menunjukkan kecanggihan dalam penguasaan teknologi, pertumbuhan perekonomian, serta sistem komunikasi dari masyarakat sebagai pendukungnya.
Kota-kota di Jawa pada akhir abad ke-19 telah menjadi tempat permukiman penduduk dalam jumlah besar dan ukuran wilayah yang besar pula dimana sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor-sektor non-agraris (industri atau administrasi pemerintah). Kota di Jawa pada masa itu digolongkan dalam dua tipe, yaitu: 1). Kota Keraton yang merupakan ibukota dari negara-negara agraris yang luas (seperti Majapahit, Kediri, Demak, Pajang dan sebagainya); 2). Kota Pelabuhan (port) perdagangan seperti Tuban atau Gresik. Kemudian dalam perkembangan tahun 1500—1800, muncul kota-kota baru seperti Banten dan Cirebon yang keduanya sebagai kota keraton dan kota pelabuhan sekaligus; kemudian Batavia sebagai pelabuhan serta pusat permukiman besar VOC di Asia; selanjutnya Surakarta dan Yogyakarta (Vorstenlanden) kota-kota pecahan negara agraris pedalaman terbesar Mataram, dan terakhir Semarang dan Surabaya yang merupakan perpaduan kota pelabuhan perdagangan gaya lama dan permukiman VOC gaya baru (seperti Batavia).
Ketika dilaksanakan kebijakan Kolonial politik  perekonomian Liberal, maka indusrti yang sesungguhnya berkembang pesat di pulau Jawa. Peranan modal swasta asing mulai menggantikan peranan perusahaan pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu sampai awal abad ke-20, terjadi booming industri dan pertumbuhan ekonomi yang ditandai melonjak besar sektor ekspor impor barang industri, sarana transportasi, komunikasi, serta barang-barang manufaktur lainnya.
Besarnya arus perdagangan barang industri, manufaktur, maupun jasa melahirkan kebutuhan kota akan adanya lembaga distribusi modern di pusat-pusat pertokoan. Maka di kota-kota besar (Batavia, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya) muncul toko-toko serba ada (toserba), show room alat-alat transportasi, agen-agen mesin dan instalasi, bengkel-bengkel, apotek, toko-toko barang konvenien, dan sebagainya. Bentuk rancangan arsitektur, interior ruang dalam, serta penampilan etalase pertokoan di kota-kota besar  pada masa itu mengubah penampilan suatu wajah kota menjadi gemerlap dan megah sebagai kota-kota industri modern. Pusat-pusat pertokoan atau perdagangan ini biasanya menempati lokasi strategis di jalan-jalan utama pusat kota.
B. Pengelompokan Jenis Iklan dalam Beberapa Surat Kabar di Jawa Periode 1870—1915
Periode Liberal di Hindia Belanda merupakan penanda pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Di bawah ini akan dijelaskan jenis-jenis iklan yang dianalisis dan dikelompokkan oleh penulis dari beberapa surat kabar terkenal di Jawa yang mewakili wilayahnya masing-masing. Di Batavia, surat kabar Pemberita Betawi (1884—1916) merupakan surat kabar yang cukup besar berbahasa Melayu Betawi yang didirikan oleh pengusaha golongan Indo-Belanda. De Nieuwe Vorstenlanden, Surakarta. Harian Soerabaiasch Handelsblad dari Surabaya yang memang ditujukan sebagai mediator antara kepentingan masyrakat produsen dan konsumennya. Kemudian, De Locomotief, surat kabar yang banyak menyuarakan kepentingan politik, perubahan sosial, ataupun perubahan nasib masyarakat pribumi yang tertindas di Semarang.
Mengenai jenis-jenis produk barang dan jasa yang diiklankan masing-masing surat kabar tersebut dari rentang tahun 1885—1915, maka dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1.      Iklan Produk Konsumsi  (Convecience Goods)
Barang-barang konsumsi dalam istilah  pemasaran disebut sebagai barang konvenien adalah barang-barang yang dibeli dengan segera. Barang-barang konvenien dibagi menjadi: 1) Bahan kebutuhan pokok, yaitu barang yang teratur dibeli seperti: makanan, minuman, sabun, pasta gigi, dst; 2) Barang impulsif, yaitu barang-barang yang dibeli tanpa rencana atau usaha mencarinya, misalnya gula, buku, surat kabar, dll; 3) Barang darurat, misalnya obat-obatan, payung, jas hujan, pemadam api dsb.

2.      Barang Spesial (Barang Toko) dan Barang Industri
Barang-barang yang dikelompokkan barang spesial adalah barang-barang yang pembeliannya dipertimbangkan dengan matang di samping itu juga produki-produk ini memiliki citra merk yang unik seperti misalnya mobil, peralatan fotografi, mesin-mesin dsb. Dan yang dimaksud barang industri dalam hal ini dibagi dalam 3 kelompok yaitu: a. barang Modal seperti mesin, instalasi, atau peralatan pelengkap, b. Bahan dan suku cadang seperti bahan baku, bahan jadi, dan suku cadang, c. bahan bantu dan jasa.
3.      Jasa, Hiburan, dan Informasi
Jasa merupakan suatu kegiatan atau manfaat yang ditawarkan untuk dijual. Sebagai  contoh seperti asuransi, dokter, pertukangan, hiburan, dan lowongan pekerjaan.



BAB V
PERIKLANAN DAN PERUBAHAN MASYARAKAT DI PULAU JAWA PERIODE TAHUN 1870-1915
Pendudukan Belanda di Pulau Jawa secara terang telah menunjukkan adanya modernisasi dan akulturasi dengan kebudayaan setempat. Proses modernisasi yang terjadi karena adanya kontak secara intensif antar unsur-unsur kebudayaan yang didukung oleh agen-agen perubahan yaitu elit birokrasi dan elit ekonomi Eropa, serta elit feodal pribumi yang terdidik secara Barat. Namun, proses akulturasi budaya yang diakibatkan kontak kebudayaan tersebut membentuk suatu konfigurasi kebudayaan baru, hasil sintesa antara unsur-unsur kebudayaan Barat modern dengan unsur-unsur kebudayaan agraris feodal tradisional Jawa yang disebut dengan kebudayaan Indisch.
Modernisasi dalam kehidupan masyarakat Jawa antara 1870-1915 juga terekam dalam iklan-iklan surat kabar yang terbit pada masa tersebut. Sebagai salah satu alat bukti, iklan surat kabar mempunyai kredibilitas yang tinggi sebagai alat perekam dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat sehingga dapat digunakan sebagai sumber sejarah untuk merekonstruksikan sebuah perubahan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat.
A. Periklanan dan Perkembangan Perkotaan Modern di Jawa
Suatu indikator terjadinya proses modernisasi pada suatu masyarakat diantaranya adalah terbentuknya kehidupan kota yang bersifat industrial modern. Melalui iklan kapal-kapal mesin dengan desain perusahaan Djoewana di Semarang pada Soerabaiasch Handelsblad 1 Maret 1909 misalnya, dapat terlihat bahwa telah terjadi proses industrialisasi di Jawa. Bentuk-bentuk kegiatan industri yang diselenggarakan di kota-kota besar seperti Semarang, Surabaya, dan Batavia bukan lagi merupakan house-hold industry atau bentuk proto-industri yang merupakan ciri kota pra-industri. Lewat iklan-iklan yang dimuat juga terlihat bahwa kegiatan-kegiatan investasi dan produksi dalam industri dan perdagangan didominasi oleh pengusaha-pengusaha Eropa dan sedikit golongan Cina.
Jika ukuran modernitas suatu kota terkait dengan penggunaan teknologi atau peralatan modern dalam kehidupan sehari-hari, maka dengan digunakannya mobil, kereta api, kapal mesin, telepon, telegraf, radio, dan media cetak seperti surat kabar oleh penduduk di beberapa kota besar di Pulau Jawa membuktikan bahwa kota-kota itu layak diuluki kota industri modern. Pada 1870-an dibuka perusahaan pelayaran negara bernama Nederlandsch Indisch Stoomvart Maatschappij (lihat sebuah iklan di De Locomotief 9 Maret 1874). Lalu dibangun juga transportasi kereta api pada tahun 1863. Kebutuhan akan kereta api dapat terlihat dari sebuah iklan penjualan di De Locomotief 23 Juni 1894 dan 12 Januari 1895). Kemudian pada akhir abad 19, muncullah mobil yang semakin memperkuat modernisasi masyarakat Jawa. Hal ini terlihat antara lain pada iklan-iklan mobil Minerva, Le Gui, dan F. N. model terbaru 1911/1912 pada Soerabaiasch Handelsblad 27 Mei 1911, dan De Nieuwe Vorstenlanden 27 Desember 1913.
Modernisasi masyarakat Jawa pada awal abad 20 juga ditunjukkan dengan pemanfaatan sumber energi listrik di hampir semua kota besar di Jawa, pemanfaatan sarana komunikasi modern, serta pemakaian barang-barang produksi industri import seperti mesin jahit, mesin ketik, sepeda dan sebagainya bagi masyarakat umum. Dalam bidang pekerjaan, muncul seleksi berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampuan profesional bidang keahliannya. Hal ini telihat pada iklan-iklan lowongan pekerjaan masinis pelayaran kapal mesin, salesman, dan lainnya (De Nieuwe Vorstenladen 26 Agustus 1905).
B. Periklanan dan Modernisasi Gaya Hidup Masyarakat Perkotaan di Jawa
Modernisasi di sisi lain juga menyebabkan perubahan dunia batin, tata nilai, perilaku maupun gaya hidup bagi masyarakat di Jawa. Salah satunya adalah gaya rumah loji yang menjadi trend mode arsitektur yang digemari oleh para pejabat pemerintah Indo-Eropa, priyayi modern pribumi, dokter pribumi, priyayi keraton, dan sebagainya. Iklan penjualan dan pengontrakan rumah-rumah loji ditemui di Pemberita Betawi 14 November 1885, De Locomotief 20 Oktober 1870, dan Soerabaiasch Handelsblad 24 Juli 1873). Untuk menunjukkan cita rasa kelas atas bagi penghuninya, maka digunakan perabot rumah tangga modern dari Eropa, Amerika, atau Jepang (lihat De Nieuwe Vorstenlanden 23 Juli 1897 dan 14 Oktober 1911, Pemberita Betawi 9 Januari 1886, Soerabaiasch Handelsblad 3 Agustus 1897, dan De Locomotief 30 Juni 1894).
Mobilitas yang tinggi dalam kegiatan bisnis, dan tumbuhnya kebiasaan mengadakan rekreasi sebagai penyegaran bagi masyarakat elit Jawa telah menimbulkan pertumbuhan yang sangat pesat dalam jasa perhotelan maupun penginapan. Salah satu contohnya adalah Grand Hotel Noailles & Metropoly di Surabaya yang dibangun dengan desain arsitektur bergaya klasik Barok dan bertingkat lima, yang diiklankan di De Nieuwe Vorstenlanden 12 Agustus 1898, De Locomotief 3 Desember 1908, dan Soerabaiasch Handelsblad 26 November 1895.
Pengaruh tata cara budaya borjuasi Eropa juga terlihat dari semakin banyaknya makanan kaleng dan impor yang beredar. Oleh karena itu, mulailah dikenal berbagai jenis makanan modern Barat seperti spekkoek, koningskroon, bolu, biskuit, roti kalengan, tart, beefsteak, sop, frikaddel, sosis, dan sebagainya. Kesibukan pekerjaan memunculkan jasa-jasa pelayanan makan seperti katering, toko-toko makanan dan minuman, restoran, cafe, atau rumah makan, baik yang dikelola orang Eropa maupun Cina.
Selain makanan, pengaruh budaya Barat dalam kaum elit pribumi adalah minuman keras. Stratifikasi minuman ini beragam, mulai dari kaum elit pribumi hingga rakyat, tergantung dari harga yang ditawarkannya. Pada masa itu telah dikenal pula berbagai minuman keras maupun soft drink yang dikemas dalam botol seperti whiskey, anggur, cognag, bier, bier hitam, lemonade, air Belanda, sari buah, siroop, dan sebagainya. Merk minuman bier yang terkenal dan mampu bertahan hingga sekarang di indonesia adalah Bintang.
Meskipun pada masa ini liberalisasi telah berpengaruh begitu kuat, politik diskriminasi rasial masih dipertahankan untuk menegaskan perbedaan status sosial penjajah dan yang terjajah. Hal ini dapat ditemui dalam tata cara berpakaian golongan elit Eropa dengan golongan pribumi. Golongan Barat pada masa itu mengenakan busana modern Barat. Kaum wanitanya berbusana menurut trend Inggris dan Paris. Para wanita Indo-Eropa yang sudah terpengaruh budaya Indisch mengenakan baju kebaya panjang atau kebaya pendek dengan bawahan sarung atau kain batik. Golongan pribumi, baik itu elit maupun rakyat biasa, kebanyakan tetap mempertahankan warna lokal tradisional dalam tata cara busananya. Pengaruh gaya modern Eropa terhadap tata busana kaum bangsawan juga ada, tetapi yang terjadi sebenarnya merupakan usaha kreatif yang bersifat ekletik dengan mencoba memadukan antara cita rasa Barat dengan kaidah-kaidah magis religius tradisional.
C. Periklanan dan Perkembangan Kesehatan Masyarakat di Jawa
Pada awal abad ke-19, tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat pribumi di Jawa sangat rendah. Beban kerja paksa pembuatan Jalan Raya Pos, kelaparan, kemiskinan, perang Diponegoro, dan wabah penyakit menular seperti cacar, malaria, dan kolera merupakan faktor-faktor penghambat kesejahteraan. Untuk itu, pada tahun 1850 didirikanlah sekolah Dokter Jawa. Adanya politik diskriminasi rasial menyebabkan dokter-dokter Eropa hanya mau melayani kepentingan kesehatan golongan Eropa saja, sedangkan berbagai vaksinasi penyakit menular yang banyak diderita rakyat pribumi diserahkan pelayanannya kepada dokter Jawa dan mantri-mantri kesehatan pribumi.
Modernisasi dalam dunia kedokteran terlihat pada banyaknya dokter-dokter spesialis yang menggunakan peralatan peralatan laboratorium medis modern, baik dari lembaga pemerintahan kolonial maupun swasta yang membuka praktik secara komersial untuk masyarakat umum. Dokter-dokter spesialis seperti dokter gigi, venereologi, gynealogis, maupun spesialis gizi sudah banyak ditemukan membuka praktik di beberapa kota besar di Jawa (lihat De Nieuwe Vorstenlanden 20 Juni 1900). Fasilitas-fasilitas kesehatan modern didirikan dan berbagai obat juga telah dijual dengan bebas.
D. Periklanan, Hiburan, dan Rekreasi
Perubahan siklus kehidupan akibat pekerjaan-pekerjaan modern yang menuntut kedisiplinan waktu di kota-kota besar telah mengubah selera terhadap jenis hiburan di perkotaan. Oleh karena itu, bentuk-bentuk kesenian traadisional yang menyita waktu dalam menikmatinya seperti wayang kulit, ketoprak, tari-tari klasik, dan sebagainya mulai mendapat saingan kesenian atau hiburan modern kota yang bersifat populer, komersial, dan dipertunjukkan dalam waktu singkat seperti film bioskop, musik modern, opera, sirkus, dan sebagainya.
Bentuk-bentuk kesenian yang dikemas sebagai hiburan atau tontonan komersial untuk dipamerkan atau dipertunjukkan kepada publik, agaknya telah menjadi fenomena baru dan peluang pasar baru di Jawa pada masa itu. Namun, meskipun hampir semua industri hiburan dan kesenian populer ini dikelola secara komersial oleh pengusaha partikelir, pengacuannya tetap pada garis kebijkasanaan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang diskriminatif berdasarkan warna kulit. Sebagai contoh, warga pribumi hanya diperbolehkan menonton di kelas IV dengan harga karcis masuk sebesar f. 0,10. Untuk warga kelas putih baik itu Eropa maupun Indo-Eropa dapat melihat di semua kelas seperti balkon dengan harga karcis f. 2,00; kelas satu f. 1,50; kelas dua f. 0,75; dan kelas tiga f. 0,50; sesuai dengan keinginan maupun kemampuan keuangannya. Bagi golongan militer dengan pangkat opsir ke bawah (prajurit) mendapatkan dispensasi hanya membayar karcis separuh harga untuk semua kelas (lihat iklan De Nieuwe Vorstenlanden 27 Desember 1913).
E. Periklanan, Industri, Penerbitan, dan Kesusasteraan
Arus modernisasi yang menerpa Jawa dengan cepat pada akhir abad ke-19 meningkatkan jumlah penduduk yang bisa membaca dan menulis sebagai dampak dari diterapkannya politik etis. Hal ini merupakan peluang pasar yang potensial bagi kalangan penerbit dan pengusaha percetakan. Dengan dukungan teknologi percetakan yang semakin canggih, muncullah penerbit-penerbit dengan modal besar dan jangkauan distribusi luas.
Bertemunya kepentingan bisnis para pengusaha swasta dengan semangat keterbukaan yang bersifat kosmopolitan dari kalangan elit keraton, telah memungkinkan dibukanya isolasi budaya agung keraton dengan diterbitkannya karya-karya kesustraan adiluhung keraton untuk dipasarkan secara umum. Hal ini kemudian melahirkan lapisan penulis-penulis kesusatraan Jawa baru yang lahir di luar lembaga keraton. Mereka terdiri dari kalangan rakyat terpelajar yang dibesarkan dalam tradisi dan lingkungan keluaraga Jawa tradisional, yang tertarik untuk mendalami ajaran-ajaran keudayaan Jawa dan meneruskan tradisi penulisan kesusastraan keraton untuk disesuaikan dengan kemajuan zamannya. Mereka juga banyak terpengaruh gaya penulisan sastra modern Barat akibat pergaulan intensifnya di bangku sekolah.
Karya-karya sastra baru yang dihasilkan kebanyakan ditulis dalam bentuk sastra prosa yang bersifat naratif dan mulai meninggalkan bentuk-bentuk tembang yang puitis. Tema penulisan sastra Jawa baru kebanyakan tentang ajaran-ajaran pendidikan moral dan etika (sastra didaktik), laporan perjalanan, biografi, carita fiksi seperti roman, dan cerita-cerita yang disadur dari karya sastra Barat. Penerjemahan karya-karya sastra Barat ke dalam bahasa-bahasa lokal telah mempercepat penerimaan nilai-nilai didaktik yang terkandung dalam kebudayaan Barat oleh masyarakat pribumi.


[1]Tams Djajakusumah, Periklanan (Bandung: Armico, 1982), hal. 9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar